Search This Blog

Pages - Menu

Tuesday, 28 April 2015

Snorkeling di Pantai Kupa-kupa


(Pantai Kupa-kupa – Halmahera Utara, 8 April 2014)

Setiap kali ke pantai, biasanya aku penasaran dengan kondisi bawah lautnya. Gimana terumbu karangnya, ikan-ikannya, dan lain sebagainya. Hehe… Demikian juga dengan pantai Kupa-kupa ini. Lautnya yang sangat tenang dan lumayan jernih membuatku makin penasaran.
Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Hallo sobat sekalian, kali ini aku akan menyambung postinganku sebelumnya tentang Pantai Kupa-kupa. Tidak hanya menikmati pantai dan berenang saja, tapi snorkeling juga patut untuk tidak dilewatkan apabila berkunjung di pantai yang sunyi dan berarus tenang ini. 
Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Biasanya sebelum snorkeling, aku mencari informasi meski sedikit tentang kondisi lautnya. Dari informasi yang aku dengar, katanya terumbu karang di sini kurang bagus. Hal ini diakibatkan karena adanya penangkapan ikan dengan menggunakan bom oleh nelayan sekitar. Namun, syukurlah aktifitas pengeboman ikan itu sudah lama ditinggalkan para nelayan. Mereka telah menyadari bahwa kerugian yang ditimbulkan akibat hal tersebut lebih besar daripada manfaat yang diraup dari laut ini. Senang mendengarnya… Hoho..

Aku snorkeling sendirian dan hanya di seputaran pantai saja, dengan kedalaman hingga sekitar 3 atau 4 meter-an saja. Sejauh pengamatanku, terumbu karangnya lumayan lah. Tidak sebagus, se-beraneka ragam dan sepadat seperti di Pulau Kakara atau Pulau Meti. Namun begitu, ikan-ikannya cukup banyak. Berikut ini beberapa foto di antaranya.

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Terumbu karang di Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Terumbu karang di Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara


Terumbu karang di Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Aku masih bisa melihat sedikit sisa-sisa “korban” bom ikan. Namun demikian, ada banyak karang-karang muda yang sepertinya sedang “recovery” di sini dengan kondisi yang bagus. Ah, syukurlah… Mudah-mudahan beberapa lama lagi akan makin bagus. Hehe…

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Terumbu karang di Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Oh, ya. Tidak ada tempat penyewaan alat snorkeling di sini. Jadi bawa sendiri ya…

***
Untuk tips bagaimana ke Pantai Kupa-kupa, bisa baca postinganku sebelumnya (klik di sini).

*****

Sunday, 19 April 2015

Pulau Dodola, Hari ini setahun yang lalu (#HISTAL)


(Pulau Dodola, Morotai, 19 April 2014)
“Setiap kali mendengar kata Pulau Dodola, pikiranku segera menerawang membayangkan keindahannya. Pesona “jembatan pasir putih”-nya, jernih air di lautnya yang dangkal di atas pasir putih yang terhampar luas, bau pohon-pohonnya, dan terik mataharinya.”

Pulau Dodola, Morotai

Hampir mirip dengan tweet pak SBY yang akhir-akhir ini menambahkan hastag #HISTAL untuk mengenang pengalaman beliau hari ini beberapa tahun yang lalu. Cuman bedanya, mantan Presiden RI tersebut mempunyai kepanjangan Hari Ini Sepuluh Tahun Yang Lalu, sedangkan kepanjangannya menurut versiku kali ini adalah “Hari Ini Setahun Yang Lalu”. Hehe… Semoga beliau tidak keberatan aku pinjam akronimnya. :D

Ya, aku ingin bercerita pengalamanku pada hari ini tepat setahun yang lalu, yang berkesempatan kembali mengunjungi Pulau Dodola. Sebuah pulau yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihat foto-foto-nya dan makin jatuh cinta, setelah pertama kali ke sana pada tahun 2012 lalu (klik disini). Okeh, anggap saja aku terlalu berlebihan, tapi ini beneran... hehehehe…

“Kalau belum ke Pulau Dodola, berarti belum ke Morotai”, kata salah satu temanku yang masih terngiang di telinga.

Kisah ini – bedeh… – merupakan bagian dari liburan long weekend di pulau Morotai pada postinganku sebelumnya tentang Tanjung Gorango dan Sunset di Morotai (silahkan di-klik kalo penasaran. Hehe…)
Saat itu masih mengira-ngira kira-kira akan menggunakan transportasi apa jika ke Pulau Dodola dari Daruba. Option pertama adalah menyewa perahu katinting, option kedua menyewa speedboat yang lebih mahal. Namun dari pemilik homestay kami sempat mendapat informasi, bahwa untuk ke pulau Dodola ada speedboat reguler punya Pemda (pemerintah daerah) yang lebih murah. 
Sarapan paginya ini. Entah apa namanya, ini khas Maluku Utara.

Pagi-pagi benar kami sudah bangun dan bersiap-siap. Tidak lupa sarapan terlebihdahulu. Salah satu makanan khas Maluku Utara (entah apa namanya) sudah siap di meja. Makanan ini terbuat dari beras dilengkapi dengan gula merah dan kelapa. Setidaknya itu adalah komposisi yang berhasil aku identifikasi. hehe... Dan setelah makan, kami menuju ke Pelabuhan Daruba.


Sesampainya di sana, perhatian kamipun tertuju ke sebuah tempelan di dinding yang lumayan membuat hati yang gundah gulana menjadi tenang. Hehehehe.... . Seperti ini penampakan tempelan tersebut.
Pelabuhan Speedboat/Kapal Kayu Daruba
Ini dia.....

Iya kan? Siapa yang tidak senang cobak. Jadi tidak perlu bersusah payah mencari speedboat atau perahu katinting, apalagi mesti capek-capek nego, paling males dah kalo urusan tawar menawar. Namun tantangan selanjutnya adalah…. Menunggu penumpang lain yang harus terkumpul minimal 13 orang. Fiuhhh… Bengonglah kami selama beberapa saat.
Suasana dermaga speedboat Daruba, sambil menunggu....
Tidak lama kemudian –sejam lebih euy–, orang-orang yang ingin ke Pulau Dodola makin berdatangan. Kamipun segera mendaftar agar tidak kehabisan kuota. Setelah kuota memenuhi forum alias mencukupi, rame-rame dah nyebrang.
Akhirnya... Dodola, we're coming....!!!!
Kami satu rombongan dengan beberapa orang tentara dengan rombongan mahasiswa. Salah seorang dari anggota TNI yang kebetulan meminjam perlengkapan snorkelingku bercerita bahwa mereka mengawal para mahasiswa selama beberapa bulan yang melakukan penelitian di belantara hutan Morotai. Dia juga mengatakan bahwa sampai saat itu, sebagian besar penugasannya adalah mengelilingi Indonesia dalam ekspedisi serupa. Wah, senangnya bisa ditugaskan menjelajah Indonesia. Baru tahu aku ternyata di TNI ada penugasan seperti itu. Dia bercerita pula pengalamannya panjang lebar menyusuri pulau Morotai lengkap dengan nuansa mistis yang pernah dialami.

Pulau Dodola Besar dan Kecil, tampak dari jauh.

Kembali ke Pulau Dodola. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, kamipun sampai di pulau yang merupakan icon wisata andalan Kab. Pulau Morota ini. Tidak banyak berubah dari pulau Dodola. masih asri dan indah. Bahkan kali ini aku merasa makin menikmati keindahannya. Mungkin karena suasananya yang sunyi, sangat berbeda sebagaimana tahun 2012 lalu yang ramai karena bersamaan dengan perhelatan Sail Indonesia di Morotai.
Speedboatnya menepi di sini untuk menurunkan penumpang


Kami kawan bertiga, aku Jihad dan Ichad, awalnya menuju ke bagian dermaga kayu kemudian lanjut menyusuri pantai di sebelah kiri pulau. Sunyi sekali di sini. Kami melihat seorang bapak nelayan yang sedang beraktivitas, menjemur ikan yang mungkin akan dijadikan ikan asin. Morotai juga dikenal sebagai penghasil ikan asin di Maluku Utara lho. Salah satu teman di kantor sering memesan ikan asin dari Morotai sebagai ole-ole ketika mudik ke kampung halamannya. Btw, halaman berapa emang? Hehehe…..

Menyusuri bagian kiri pulau Dodola Besar
Seorang nelayan yang sedang menjemur ikan di atas perahu katinting

Kami kemudian kembali ke dermaga kayu tadi. Aku ingat betul dua tahun yang lalu, ada papan namanya yang berdiri di dekat dermaga ini. Namun sekarang sudah tidak nampak lagi. Kutengok kiri kanan barangkali papan namanya udah berpindah tempat atau mungkin lagi sembunyi. Hehehe…. Ternyata tiangnya udah patah dan terbiar terlantar dan diabaikan di antara semak belukar. Kasihan… Tapi, oh, thanks God, tulisannya masih utuh dan jelas terbaca. Segera kami giring ke dermaga dan diajak foto bersama *terharu*

Dermaga kayu di Pulau Dodola. Kami bertiga aja, kiri-kanan: Jihad, Ichad, aku.

Ingin rasanya nyebur bermain air di seputaran dermaga kayu ini. Siapa cobak yang bisa nahan godaan air laut biru tosca dengan gradasi warna memukau sejernih kristal. Hadehhhh….

Pengen loncat.... @_@
Pengen nyebur... @_@

Kami dengan berat hati sepakat melewati sesi nyebur di bagian dermaga ini untuk menyisir bagian lain pulau yang tak kalah menggoda. Apa lagi kalo bukan meniti “jembatan pasir putih” menuju ke Pulau Dodola Kecil. Adalah hamparan pasir putih yang luas dan panjang, yang akan muncul tatkala air laut surut dan menghubungkan Pulau Dodola Besar dan Pulau Dodola Kecil.
Di pulau Dodola terdapat taman, pohon-pohon yang rindang, cottage dan bangunan pertemuan yang bisa disewa. Mau bakar ikan? silahkan... hehe...


Di pulau ini banyak ditumbuhi pohon-pohon, di antaranya pohon pinus, juga pohon-pohon yang mungkin sebangsa pinus. Nggak tahu namanya apa. hehe... Oke, mari kita lanjut ke "Jembatan Pasir Putih"-nya. Ini dia...
Di atas "Jembatan Pasir Putih" di Pulau Dodola. Tampak di seberang sana Pulau Dodola Kecil yang imut. hehe....
Di atas "Jembatan Pasir Putih" di Pulau Dodola. Di seberang sana Pulau Dodola Besar.
Siapa cobak yang mau bilang “jembatan pasir putih” ini tidak indah??? Hayo siapaa??? Aku aja yang mengetik bagian ini merasa masih merinding, terharu, berbinar bahkan hampir speechless karena sambil membayangkan keindahannya. Duuuhhh….. hehe..
I Love Dodola....
Thanks God I'm Here... Pulau Dodola....


Foto di atas tampak pulau Dodola Besar di belakang. aku jadikan backround blogku ini. :D Oke, lanjut yaaa foto2nya. hehehehe..... Kali ini dengan Pulau Dodola Kecil tampak di belakang kami.

Di atas "Jembatan Pasir Putih", tampak belakang: Pulau Dodola Kecil.

Penasaran dengan bentuknya di atas ketinggian, akupun mencoba memanjat di sebuah batang pohon di Pulau Dodola Kecil. Nggak sampe ke atas banget sih. Kamera dan tripodnya berat euy... hehehe.. Nah, seperti ini penampakannya dari atas.
Pulau Dodola dari ketinggian yang nggak terlalu tinggi. hehehe....
Salah satu tempat favouritku di sini adalah hamparan pasir putih luas dengan sisa-sisa air laut yang semakin surut tepat berada di sebelah kanan Pulau Dodola kecil. Pemandangan putih luas dan nyaris tersambung dengan pulau Kolorai nun jauh di sana semakin melengkapi pesonanya. Tak jarang ratusan mungkin bahkan ribuan burung camar sering menyambanginya, yang kemudian segera bubar tatkala aku mencoba mendekatinya.

Di ujung sana ada rombongan burung camar lagi arisan. Keliatan nggak??

Suatu ketika salah seorang teman, sebut saja namanya Benny, hehehe..., menanyakan tentang letak di mana di Pulau Dodola ini, hamparan pasir putih yang membentuk bekas riak-riak ombak. Akupun penasaran. Oke, I'm in a mission. Sebagai teman yang baik hati, tidak terlalu sombong dan rajin menabung, aku coba cari yaa bro, mudah-mudahan ketemu. Hehehe...

Katanya lagi, mungkin di atas "Jembatan Pasir Putih" antara Dodola Kecil dan Besar. Dan suatu ketika hampir sebulan setelah liburan ini (tanggal 14 Mei 2014) -alhamdulillah ke sini lagi :D- secara tidak sengaja aku menemukan riak-riak yang mungkin itu yang dimaksud bang Benny. Namun letaknya di hamparan pasir putih setelah pulau Dodola Kecil ini -yang aku bilang tempat favoritku di atas itu lho. hehe... -. Agak jauh memang, dan biasanya orang-orang jarang ke sana. Mungkin jejak riak-riak itu bisa terbentuk di "Jembatan Pasir Putih" atau area yang lain, tergantung mood-nya si ombak kali yaaa. Ya iya lah, suka-suka si ombak donk yaa, gak boleh maksa. Kalo mau, coba bikin aja sendiri. hehehe.... Berikut penampakannya @_@
Riak-riak di atas pasir ini.. indah sekali...
Liat riak-riak di atas pasir yang bersih begini, jadi pengen tidur2an. hehehe....

Setelah belum puas menjelajah Pulau Dodola Kecil, kami kembali ke Pulau Dodola Besar. Tapi sebelumnya, kami duduk-duduk berteduh sejenak melepas lelah di bawah rimbunnya pohon di Pulau Dodola Kecil, sambil menikmati indahnya pulau-pulau dan laut yang berjulukan "Mutiara di Bibir Pasifik" ini.

Berteduh sejenak di Pulau Dodola Kecil
Berteduh di Pulau Dodola Kecil sambil narsis adalah kewajiban. haha....

Dari Pulau Dodola Kecil, kembali kami menuju Pulau Dodola Besar. Di sini aku kemudian mengobati kekecewaan terpendamku dua tahun yang lalu. Apa itu? Menikmati laut di Pulau Dodola. Berenang cuyyyyy…… hihihihi…. *tertawa tante girang*
Siap-siap mau nyebur...
foto dulu lah.. pinjem sebentar fins-nya buat pemanis buatan. hehe...

2 (dua) tahun yanglalu aku mengira pantai di depan pulau Dodola ini cukup dalam, karena warna hijau gelap air laut yang berjarak beberapa meter dari bibir pantai. Setelah aku berenang, eh ternyata aku salah besar. Area yang aku anggap dalam tadi ternyata relatif dangkal. Mungkin hanya sekitar 2 meter-an. Warna hijau gelap yang nampak dari atas itu karena rumput yang tumbuh di dasar pantai. Jarang kulihat terumbu karang. Namun sempat menemukan beberapa anemone lengkap dengan ikan badutnya. Air lautnya yang tenang makin membuatku bersemangat berlama-lama berenang. Sayang sekali aku tidak bisa mengabadikan kondisi bawah lautnya, karena kamera underwater-ku diambil sama Tanjung Gorango pada hari sebelumnya *sedih*

Yesss... nyeburrrr....!!!!!

Siang semakin lewat mendekati sore. Kamipun harus bersiap-siap untuk kembali. Air di bagian pantai semakin surut juga. Suasana sore menurutku semakin indah. Terangnya mentari yang tidak seterik siang tadi yang mulai miring ke arah barat membentuk bayangan pohon yang disinarinya menambah nuansa tentram di pulau ini. Hmmm.... berat rasanya harus berpisah lagi denganmu Dodola...

Menjelang sore di Pulau Dodola.

Kemudian pura-pura tersadar, kalau hari ini adalah hari minggu, dan besok Senin harus ngantor lagi. Rasa rindu dengan Pulau Dodola pun mulai tumbuh seiring dengan berpisahnya speedboat dari bibir pantai menuju kembali ke Daruba.
I'll miss you, Dodola @_@
Pikiranpun tambah kalut karena sore harinya harus kembali pulang ke Tobelo. Hadehhh :( *sambil menatap kondisi ombak*

Seperti pada postingan pulau Dodola sebelumnya, aku ingatkan, hati-hati dengan terik panas mataharinya. Terlalu enjoy menikmati pulau Dodola akan membuat anda lupa dengan kulit yang semakin gosong. Hehehe….

I Love Dodola…. I Love Morotai :D

Semoga suatu saat kita ke sini lagi yaakk.. hehe... (sial, posenya nggak kompak, hehe...)
 ***

Tips perjalanan ke Pulau Dodola

  • Sesuai foto di atas, speedboat reguler setiap Sabtu dan Minggu dengan tariff Rp. 60.000 PP per orang. Jangan lupa langsung daftar biar nggak kehabisan kuota. Atau kalau rombongan dan yang lain masih sibuk dandan, salah satu bisa datang duluan untuk booking.
  • Bisa sewa speedboat mulai Rp. 500.000,- dan silahkan nego untuk sekalian ke pulau-pulau sekitarnya, misalnya pulau Zum-zum (tempat nyantai om Jenderal Mc. Arthur jaman perang dulu).
  • Sempatkan menjelajahi hamparan pasir putih di sebelah Pulau Dodola Kecil sampe hampir mendekati ujungnya. Kebanyakan orang aku lihat jarang ke situ. Mungkin karena jauh. Padahal di situ pasir putihnya yang halus sering membentuk riak-riak ombak dan bagus buat objek foto.
  • Nikmati, nikmati dan nikmati keindahannya. Jangan takut gosong. Hehehe…

*****

Friday, 10 April 2015

Pesona Pantai Kupa-Kupa

(Pantai Kupa-Kupa, Halmahera Utara, April 2014 s.d. April 2015)

berapa kali pun kita mengunjungi suatu tempat yang sama, kesannya pasti berbeda...

Pantai ini cukup terkenal di Halmahera Utara. Saking terkenalnya, membuatku penasaran ingin "menjamahnya". Dan kesempatan pertama kali ke sini adalah saat singgah bulan April tahun 2014 lalu setelah menyambangi Pulau Meti. Karena perjalanan dari Mawea ke Tobelo akan melewati desa dimana Pantai Kupa-kupa berada, maka aku dan teman-teman sepakat untuk singgah. Sama-sama belum pernah ke sini soalnya.

Angkot dari Desa Mawea ke pantai Kupa-kupa dikenakkan tarif Rp. 10.000 per orang. Seharusnya sih dari Mawea ke desa Kupa-kupa cuman Rp. 5000,-. Namun ternyata aku baru sadar kenapa sedikit mahal saat angkot yang kami tumpangi melewati jalanan yang beberapa bagiannya tidak terlalu bagus dan agak masuk ke dalam kampung mendekati pantai. Pantesan… hehe..

Sedangkan untuk transportasi dari Tobelo, cukup menumpang angkot yang melewati desa Kupa-kupa yang ada di Terminal Wosia, Tobelo dengan tarif yang hampir sama.

Kami diturunkan di depan Terminal BBM Tobelo. Untuk menuju ke pantai, kami masih harus melewati jalanan yang tidak diaspal alias tanah berbatu yang terletak di sebelah kanan Terminal BBM tadi. Untuk yang tidak membawa kendaraan dikenakkan tarif Rp. 2000,- per orang. Untuk yang membawa kendaraan lebih mahal beberapa ribu tergantung jenisnya. Biasanya biaya retribusi memasuki kawasan wisata di daerah Halmahera Utara adalah sama di mana-mana.
Narsis di depan kantornya orang dulu. hehe....
Setelah jalan kaki sekitar 200 meter, sampailah kami ke pantai Kupa-kupa. Pantai ini sunyi sekali. Pasirnya tidak terlalu halus, berwarna krem. Sepanjang pantai ditumbuhi pohon jenis ketapang yang rindang. Dijamin tidak akan kepanasan kalau mau duduk-duduk di pasir. 
Lumayan buat nyantai sambil tidur2an di depan resort
Yang paling aku suka di sini adalah pantainya bersih dan terawat, air lautnya tenang, dan tidak terlalu banyak pengunjung saat itu. Mungkin karena sebagian besar masyarakat di Tobelo lebih menyukai Pantai Luari atau Tanjung Pilawang untuk bersantai di hari libur. Bagi yang membawa anak kecil atau mau belajar berenang, pantai ini sepertinya cocok sekali. Meski pemandangan Terminal BBM Tobelo di sebelahnya terlihat kurang pas dengan pantai, namun tidak terlalu berpengaruh. Pantai ini tetap indah.
Teduh banget euy.....

Minggu lalu (awal April 2015), ke sini lagi. Tidak banyak yang berubah dengan suasana pantai Kupa-kupa ini. Terminal BBM masih eksis di sebelahnya, dengan simbol rumah adat "Hibualamo" yang ditempatkan di atas papan namanya. Suasana sunyi dan tenang yang biasanya menyelimuti pantai ini berganti ramai dengan musik yang diputar pengelola pantai ditambah dengan suara orang yang lagi karaokean lagu-lagu kenangan di warung makan depan resort. Bersahut-sahutan kedua sumber musik itu, sampe aku jadi bingung sendiri mendengarnya. hehe...

Resort yang ada di pinggir pantai Kupa-kupa ini milik seorang bapak asal Jerman dengan isterinya yang orang asli Halmahera. Yang paling murah seharga (kalo tidak salah ingat) nggak sampe lima ratus ribu,- per malam dan yang termahal di atas sejuta. Tamannya juga bagus, meski tidak terlalu luas. Banyak sekali tumbuhan langka di sini. Tidak heran memang karena om bule itu seoran pecinta tumbuhan.  Jangan kaget kalau melihat banyak tumbuhan dari luar negeri ada di sini. Ada yang dari Afrika, Amerika Latin, Malaysia, dll. Mau beli? Silahkan tanya ke yang empunya. Dulu pernah nemenin si boss kantor membeli beberapa tanaman langka. Silahkan nego pokoknya. Harga tanaman nggak pake Dollar kog, dan masih standard dalam negeri lah… hehe…

Tidak hanya di pantai depan resort, kami kemudian menyusuri ke sisi lain pantai. Semakin ke utara, pasirnya semakin halus dan suasana semakin sunyi. Di bagian ini terdapat hamparan batu karang dan air laut berombak. Berdiri pula sebuah menara pemantau di atas lautnya. Sepertinya di sini kurang cocok untuk berenang.

Menelusuri sisi utara pantai Kupa-kupa
Makin penasaran sebenarnya ingin menjelajah lebih jauh lagi, tapi kalau sendirian menjelang sore begini sepertinya serem juga. Apalagi suara deburan ombak makin lama makin tidak romantis. *preettt...*. Balik aaahhh… heehehe…
Di bagian utara pantai didominasi oleh batu karang (April 2014)

Masih di bagian utara pantai (April 2015).
Semakin ke sini semakin sunyi... sepiii....
Menjelang sore, air laut mulai pasang. Balik ahh....
Tersedia warung makan juga di sini. Beberapa kali aku ke sini, jarang buka. Kadang hanya tersedia pisang goreng dan minuman. Ya sudah, itu aja dah wow banget. Apalagi dinikmatinya di tepi pantai yang teduh begini. Harganya pun cukup ekonomis.
April 2014: Ichad, Thoxy, Amin, Jihad

April 2015: Thoxy, Achun, Blessiong, Amin, Dhinar, Jihad, Wanal
Selain berkeliling pulau, santai dan mandi di pantai, kegiatan snorkeling juga bisa dilakukan di sini. Selain itu, kita bisa juga menyewa perahu ketinting berukuran kecil yang tersedia di pinggir pantai. Seru…!!! Kalo nggak salah inget sih Rp. 50.000 sepuasnya. Yang penting jangan lupa dibalikin perahunya. Dan jangan coba-coba dibawa mendayung hingga Tobelo yaah.. Jauh itu.. hahaha...
Ready to rent....
Haripun semakin sore. Saatnya pulang. Karena tidak ada angkot yang lewat di sini, untuk yang tidak bawa kendaraan terpaksa harus jalan kaki sob sampe ke jalan trans Halmahera. Lumayan lah, anggap saja olahraga. Yah, kira-kira 30 menit-an jalan kakinya.
Kondisi jalan dari pantai ke jalan raya
Untuk menikmati sunset, sepertinya bisa juga. Namun mataharinya tidak terbenam berhadapan dengan pantai. Jadi, sepertinya tidak seindah seperti di Pantai Luari.
Capturing the red light....
Menjelang Maghrib, saatnya pulang....

***
Tips perjalanan ke Pantai Kupa-kupa
  • Sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi. Kalau dari Tobelo ke sini mah gampang, bisa minta supirnya agar diturunin di depan jalan masuk pantai. Tapi baliknya itu yang susah. Jalan kaki sampai nemu jalan raya. Haha…
  • Bawa makan atau camilan sendiri ya sob. Kadang warungnya buka, kadang nggak.
  • Bawa alat snorkeling sendiri.
*****