Search This Blog

Pages - Menu

Friday, 10 April 2015

Pesona Pantai Kupa-Kupa

(Pantai Kupa-Kupa, Halmahera Utara, April 2014 s.d. April 2015)

berapa kali pun kita mengunjungi suatu tempat yang sama, kesannya pasti berbeda...

Pantai ini cukup terkenal di Halmahera Utara. Saking terkenalnya, membuatku penasaran ingin "menjamahnya". Dan kesempatan pertama kali ke sini adalah saat singgah bulan April tahun 2014 lalu setelah menyambangi Pulau Meti. Karena perjalanan dari Mawea ke Tobelo akan melewati desa dimana Pantai Kupa-kupa berada, maka aku dan teman-teman sepakat untuk singgah. Sama-sama belum pernah ke sini soalnya.

Angkot dari Desa Mawea ke pantai Kupa-kupa dikenakkan tarif Rp. 10.000 per orang. Seharusnya sih dari Mawea ke desa Kupa-kupa cuman Rp. 5000,-. Namun ternyata aku baru sadar kenapa sedikit mahal saat angkot yang kami tumpangi melewati jalanan yang beberapa bagiannya tidak terlalu bagus dan agak masuk ke dalam kampung mendekati pantai. Pantesan… hehe..

Sedangkan untuk transportasi dari Tobelo, cukup menumpang angkot yang melewati desa Kupa-kupa yang ada di Terminal Wosia, Tobelo dengan tarif yang hampir sama.

Kami diturunkan di depan Terminal BBM Tobelo. Untuk menuju ke pantai, kami masih harus melewati jalanan yang tidak diaspal alias tanah berbatu yang terletak di sebelah kanan Terminal BBM tadi. Untuk yang tidak membawa kendaraan dikenakkan tarif Rp. 2000,- per orang. Untuk yang membawa kendaraan lebih mahal beberapa ribu tergantung jenisnya. Biasanya biaya retribusi memasuki kawasan wisata di daerah Halmahera Utara adalah sama di mana-mana.
Narsis di depan kantornya orang dulu. hehe....
Setelah jalan kaki sekitar 200 meter, sampailah kami ke pantai Kupa-kupa. Pantai ini sunyi sekali. Pasirnya tidak terlalu halus, berwarna krem. Sepanjang pantai ditumbuhi pohon jenis ketapang yang rindang. Dijamin tidak akan kepanasan kalau mau duduk-duduk di pasir. 
Lumayan buat nyantai sambil tidur2an di depan resort
Yang paling aku suka di sini adalah pantainya bersih dan terawat, air lautnya tenang, dan tidak terlalu banyak pengunjung saat itu. Mungkin karena sebagian besar masyarakat di Tobelo lebih menyukai Pantai Luari atau Tanjung Pilawang untuk bersantai di hari libur. Bagi yang membawa anak kecil atau mau belajar berenang, pantai ini sepertinya cocok sekali. Meski pemandangan Terminal BBM Tobelo di sebelahnya terlihat kurang pas dengan pantai, namun tidak terlalu berpengaruh. Pantai ini tetap indah.
Teduh banget euy.....

Minggu lalu (awal April 2015), ke sini lagi. Tidak banyak yang berubah dengan suasana pantai Kupa-kupa ini. Terminal BBM masih eksis di sebelahnya, dengan simbol rumah adat "Hibualamo" yang ditempatkan di atas papan namanya. Suasana sunyi dan tenang yang biasanya menyelimuti pantai ini berganti ramai dengan musik yang diputar pengelola pantai ditambah dengan suara orang yang lagi karaokean lagu-lagu kenangan di warung makan depan resort. Bersahut-sahutan kedua sumber musik itu, sampe aku jadi bingung sendiri mendengarnya. hehe...

Resort yang ada di pinggir pantai Kupa-kupa ini milik seorang bapak asal Jerman dengan isterinya yang orang asli Halmahera. Yang paling murah seharga (kalo tidak salah ingat) nggak sampe lima ratus ribu,- per malam dan yang termahal di atas sejuta. Tamannya juga bagus, meski tidak terlalu luas. Banyak sekali tumbuhan langka di sini. Tidak heran memang karena om bule itu seoran pecinta tumbuhan.  Jangan kaget kalau melihat banyak tumbuhan dari luar negeri ada di sini. Ada yang dari Afrika, Amerika Latin, Malaysia, dll. Mau beli? Silahkan tanya ke yang empunya. Dulu pernah nemenin si boss kantor membeli beberapa tanaman langka. Silahkan nego pokoknya. Harga tanaman nggak pake Dollar kog, dan masih standard dalam negeri lah… hehe…

Tidak hanya di pantai depan resort, kami kemudian menyusuri ke sisi lain pantai. Semakin ke utara, pasirnya semakin halus dan suasana semakin sunyi. Di bagian ini terdapat hamparan batu karang dan air laut berombak. Berdiri pula sebuah menara pemantau di atas lautnya. Sepertinya di sini kurang cocok untuk berenang.

Menelusuri sisi utara pantai Kupa-kupa
Makin penasaran sebenarnya ingin menjelajah lebih jauh lagi, tapi kalau sendirian menjelang sore begini sepertinya serem juga. Apalagi suara deburan ombak makin lama makin tidak romantis. *preettt...*. Balik aaahhh… heehehe…
Di bagian utara pantai didominasi oleh batu karang (April 2014)

Masih di bagian utara pantai (April 2015).
Semakin ke sini semakin sunyi... sepiii....
Menjelang sore, air laut mulai pasang. Balik ahh....
Tersedia warung makan juga di sini. Beberapa kali aku ke sini, jarang buka. Kadang hanya tersedia pisang goreng dan minuman. Ya sudah, itu aja dah wow banget. Apalagi dinikmatinya di tepi pantai yang teduh begini. Harganya pun cukup ekonomis.
April 2014: Ichad, Thoxy, Amin, Jihad

April 2015: Thoxy, Achun, Blessiong, Amin, Dhinar, Jihad, Wanal
Selain berkeliling pulau, santai dan mandi di pantai, kegiatan snorkeling juga bisa dilakukan di sini. Selain itu, kita bisa juga menyewa perahu ketinting berukuran kecil yang tersedia di pinggir pantai. Seru…!!! Kalo nggak salah inget sih Rp. 50.000 sepuasnya. Yang penting jangan lupa dibalikin perahunya. Dan jangan coba-coba dibawa mendayung hingga Tobelo yaah.. Jauh itu.. hahaha...
Ready to rent....
Haripun semakin sore. Saatnya pulang. Karena tidak ada angkot yang lewat di sini, untuk yang tidak bawa kendaraan terpaksa harus jalan kaki sob sampe ke jalan trans Halmahera. Lumayan lah, anggap saja olahraga. Yah, kira-kira 30 menit-an jalan kakinya.
Kondisi jalan dari pantai ke jalan raya
Untuk menikmati sunset, sepertinya bisa juga. Namun mataharinya tidak terbenam berhadapan dengan pantai. Jadi, sepertinya tidak seindah seperti di Pantai Luari.
Capturing the red light....
Menjelang Maghrib, saatnya pulang....

***
Tips perjalanan ke Pantai Kupa-kupa
  • Sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi. Kalau dari Tobelo ke sini mah gampang, bisa minta supirnya agar diturunin di depan jalan masuk pantai. Tapi baliknya itu yang susah. Jalan kaki sampai nemu jalan raya. Haha…
  • Bawa makan atau camilan sendiri ya sob. Kadang warungnya buka, kadang nggak.
  • Bawa alat snorkeling sendiri.
*****

Friday, 6 March 2015

Snorkeling di Pulau Meti

(Pulau Meti, 08 April 2014)
Dermaga kayu di Pulau Meti

Selain menikmati pantai di pulau Meti seperti pada postingan sebelumnya (klik di sini), tidak afdhal rasanya kalau tidak snorkeling. Air yang jernih serta kondisi pulau yang masih asri membuatku makin penasaran dengan bawah lautnya. Apalagi di tahun lalu, pernah aku melihat beberapa orang bule snorkeling di pantai ini.
Salah satu spot snorkeling di depan dermaga Pulau Meti
Tidak ada tempat penyewaan alat snorkeling. Jangankan itu, pondok di area wisatanya pun kelihatan tidak terurus. Jadi, membawa sendiri perlengkapan alat snorkeling maupun logistik lainnya merupakan hal yang wajib. Kali ini aku snorkeling di area sekitar dermaga. Sebenarnya penasaran juga dengan kondisi bawah laut area selat, tapi kadang cukup berarus. Jadi, hati-hati kalau mau snorkeling atau berenang di selat ini. Ada kabel bawah laut pulak. Ngeri ihh.... Balik ke seputaran dermaga aja ahhh...
Selat di sebelah selatan pulau, berarus
Snorkeling dimulai dari sebelah kanan dermaga, kemudian penyisiran (:P) dilanjutkan ke arah utara. Air laut saat itu belum surut, visibilitinya lumayan bagus. Terumbu karang akan banyak ditemui mulai di kedalaman kira-kira 1 meter. Area dangkalnya tidak terlalu luas.

Ikan nemonya (clown fish) gelap banget yaakk warnanya. Ukurannya juga kira-kira sebesar telapak tangan. Tapi jahat, suka matok. hehe....
 
 
 
  
Sejauh penglihatnku sih terumbu karang di sini umumnya masih bagus dan cukup terawat. Lumayan padat dan berwarna warni, meski didominasi oleh terumbu karang yang keras. Ikan-ikannya juga banyak. Ada karang-karang yang mati, tapi tidak hancur. Hanya terbiar begitu saja. Sepertinya terumbu karang di sini jarang dijamah manusia.


 
 
Ini ikan apa yaa namanya??? ada y ang tahu????
Jadi penasaran nih ingin melihat kondisi di kedalaman lebih dari 5 meter. Sayangnya tidak ada diving operator di pulau ini. Namun untuk sobat yang ingin diving, bisa menghubungi dinas pariwisata Kab. Halmahera Utara untuk difasilitasi.
Well, demikian dulu ceritaku tentang salah satu pulau tempat wisata di Halmahera Utara ini. Mudah-mudahan bisa menjadi tambahan referensi. Jangan lupa melihat postingan sebelumnya tentang pulau Meti (klik di sini).
*****

Sunday, 22 February 2015

Menyepi di Pulau Meti


(Pulau Meti, 08 April 2014)
P.S.: foto-foto di postingan ini campuran, ada yang diambil tahun 2013 dan 2014

Hari ini adalah hari libur, dalam rangka pemilihan calon legislatif. Pesta demokrasi 5 tahunan ini membuat kota Tobelo sepi sejenak di pagi hari sampai menjelang siang. Sebagai  perantau yang tidak dapat memilih – males ngurus sih sebenarnya – hari ini kita isi dengan jalan-jalan saja. Pilihan jatuh ke pulau Meti. Pilihan? Yoi sob. Di Halmahera Utara sini tempat wisatanya segudang. Bergudang-gudang malah. Tinggal milih mau ke mana. Dan pulau Meti, adalah sebuah pulau berpenghuni yang pernah aku kunjungi sebelumnya pada tahun 2013 lalu.

Pulau Meti terletak di perairan laut bagian timur Halmahera Utara, dekat dengan desa Todokuiha. Di pulau ini masih bisa ditemukan meriam peninggalan Jepang. Tedapat perkampungan di pulau ini.
Perjalanan ke desa Mawea bisa menggunakan angkot, biar lebih ekonomis...
Dari Tobelo, kami menumpang sebuah angkot jurusan Mawea di terminal Wosia, Tobelo, dengan tarif Rp. 15.000 yang aslinya adalah Rp. 10.000. Karena angkot ini adalah angkot satu-satunya yang ada di terminal, mungkin yang lainnya lagi ke TPS kali ya, maka kamipun tidak keberatan dengan tarif 50% lebih mahal tersebut.
Dermaga kayu di Desa Mawea, di sini tempat menyewa perahu ke Pulau Meti
Anak-anak yang sedang asyik memancing ikan
Kayaknya udah dapet banyak tuh ikannya. hehe...
Sekitar setengah jam perjalanan, sampailah kami di desa Todokuiha, di mana dermaga ke pulau Meti berada. Dermaga kayu sederhana ini masih tampak kokoh. Perahu sudah dipesankan oleh salah satu temanku. Sambil menunggu perahunya datang, aku keliling sebentar di pantai dekat dermaga. Banyak anak-anak kampung yang lagi memancing ikan dengan cara “ladung”, yaitu hanya dengan senar, mata pancing serta umpan dan tanpa batang kail pancing. Anak-anak di sini ternyata sangat welcome dengan wisatawan. Mereka suka difoto ternyata. Seru juga mengamati anak-anak ini mengisi waktu bermainnya. Hehehe…
Aku dan ketiga teman menyewa sebuah perahu dengan tarif Rp. 200.000 pulang pergi. Seharusnya sih bisa lebih murah. Namun melihat itu hanyalah satu-satunya perahu yang ada, ya okelah.. Letak pulau meti ini ternyata dekat sekali. Sepertinya kurang dari 10 menit.
Hallo? ATC? gimana kondisi jalur ke pulau Meti? bisa saya ke kanan dikit nggak? 3000 kaki aja.. ya. yaa.. ada orang2 keren nih mau ke Pulau Meti. hehe.
Awalnya aku mengira sekitar setengah jam, karena tahun lalu ke sini rasanya agak lama. Mungkin karena tahun lalu sempat singgah sebentar di pulau Pasir Timbul. Ternyata kalau langsung sangat dekat. Makin yakin deh kalau tarif tadi memang kemahalan untuk rute sependek ini. Dan seingatku sih kata teman yang pesenin perahu, mestinya harga segitu udah sekalian ke Pulau Pasir timbul. Tapi kog nggak dianter yaa? Hadeh… ya sudahlah. Masih untung dapat perahu.
Menyeberang ke Pulau Meti

Suasana pulau ini hampir sama seperti tahun lalu. Sunyi dan sepi. satu-satunya pondok yang ada di situpun kelihatannya makin tidak terurus. Bagian pantai tempat kami bersantai ini tidak terlalu luas. Meski begitu, pasir putih dan jernihnya air membuatnya semakin indah.  Apabila menyusuri sisi pulau lainnya kearah utara, kita akan melewati hutan lebat dengan air yang cukup tenang, jernih dan akan terdengar suara burung-burung liar sahut menyahut. Banyak anak-anak yang bermain di sini. Ada yang naik pohon, naik perahu, maupun bermain di dermaga yang kelihatan cukup tua.
Sebuah dermaga yang kelihatan tua di salah satu sisi pulau Meti
Aktivitas yang jarang dinikmati anak-anak di kota
Bercengrama di atas pohon. Senangnya mereka. hehe
Ini nih yang bikin nggak tahan pengen nyebur...
Di sini tempat wisatanya
Terdapat pulau lainnya yang cukup dekat di sebelah selatan pulau. Laut di antara pulau ini kadang tenang, kadang cukup berarus. Rasanya pengen sekali menyeberang ke pulau tetangga itu. Ada kabel bawah laut ternyata antara kedua pulau ini (di sisi pantai sebelah selatan). Entah itu kabel apa, kayak kabel listrik gitu. Ihh.. ngeri... balik ke depan pulau aaahh....
Welcome to Pulau Meti, di sini tempat wisatanya
Perahunya mendarat di sini. hehe..
Inilah kami berempat. (kiri-kanan: Ichad, Amin, Jihad, aku/Thoxy)
Sempat penasaran dengan sisi lain pulau ini. Dengan tekad yang bulat, kamipun ingin menjelajahi pulau dan berharap menemukan peninggalan-peninggalan jepang tersebut. Namun baru beberapa meter berjalan, kamipun mengurungkan niat. Daripada tersesat di hutan, ya sudahlah. Apalagi terbayang-bayang dengan penjajah Jepang yang suka pasang ranjau. Kalau kena ranjau darat gimana? hehe... lebay yaa.. Ya sudah, main-main di pantai saja. Hehehe…
Pulau Meti yang sunyi
Pulau Meti, indahnyaaa.....
Kayaknya pulau ini pas banget untuk menyepi
Rasanya pengen menyeberang di pulau seberang itu...

Selain menjelajahi pulau, kegiatan snorkeling dapat dilakukan di sini. Terumbu karangnya masih bagus dan berwarna warni. Meski didominasi oleh terumbu karang yang keras, namun alam bawah lautnya sepanjang penglihatanku ini sungguh mengagumkan. Kelihatan seperti jarang disentuh manusia. Agak mengherankan memang letak terumbu karangnya yang di samping dermaga di pulau berpenghuni ini, namun jarang ada yang rusak. Untuk kegiatan snorkeling ini, insyaallah akan aku bahas di postingan berikutnya.
Ada bule juga di pulau yang sunyi ini. Foto ini diambil tahun 2013 lalu
ada terumbu karang juga di sini lho...
Loncaaaattt....!!!!

Sepertinya pulau ini sangat cocok bagi yang suka menyendiri atau menyepi. Hehehe…
View dari pulau Meti. Rasanya pengen ke pulau-pulau di sekitarnya juga....

***

Tips perjalanan ke Pulau Meti, Halmahera Utara:

  • Dari Tobelo, bisa naik angkot jurusan Mawea. Nanti angkotnya bisa juga dipesan PP. Tinggal nego dengan supir angkotnya, jam berapa kira-kira akan dijemput.
  • Bisa sekalian ke pulau Pasir Timbul yang letaknya di sebelah utara pulau. Atau mau menjelajah ke pulau lain di sekitar pulau Meti? Silahkan dibicarakan dengan tukang perahunya.
  • Sebaiknya membawa makan sendiri.
 *****