Search This Blog

Pages - Menu

Sunday, 4 January 2015

Menikmati Senja di Morotai


Suatu Senja di Morotai
Sunset atau matahari terbenam menurutku menjadi sebuah moment yang wajib dinikmati kalau sobat sedang liburan di Morotai. Suasana kota kecil di tepi laut yang menyatu dengan merah keemasannya langit di atas laut bibir pasifik seolah memberikan nuansa tersendiri yang mungkin jarang kita temui di tempat lain. Setidaknya sudah tiga tempat di pulau ini yang pernah aku datangi untuk menikmati sunset. Tentu saja bukan hanya ada tiga tempat tersebut. Bisa jadi masih banyak tempat di sisi lain di pulau Morotai.

Berikut ini aku akan  mencoba membahasnya satu per satu tiga tempat tersebut.

1. Depan kantor Bupati, Morotai (18 April 2014)
Senja di depan Kantor Bupati, Morotai
Posisi kantor Bupati yang berada di ketinggian, dengan area depannya berupa jalan raya dan lahan terbuka, membuat matahari yang terbenam tepat di atas laut kelihatan terpampang nyata. Hehe… Saya jadi membayangkan, gimana yaa suasana kalau lagi sore-sore di kantor Bupati ini sehabis bekerja, tinggal duduk santai di atas balkon, dengan ditemani secangkir teh atau kopi dan sepiring pisang goreng. Duh…
Narsis dulu sambil menunggu waktunya sunset di depan Kantor Bupati Morotai
Karena ini kantor pemerintah, jadi kita tidak boleh sembarangan masuk. Apalagi pas hari libur, kantornya kan tutup. Tapi jangan khawatir. Kita bisa juga duduk nongkrong di beton pinggir jalan raya di depan kantor. Untuk menuju ke tempat ini tidaklah sulit. Dari pusat kota Daruba, tinggal jalan kaki, bisa tanya-tanya ke orang sekitar. Atau kalau mau gampang dan cepat, naik bentor (becak motor) saja.
Senja di depan Kantor Bupati, Morotai
2. Pesisir pantai di resort Jababeka (14 Mei 2014)
Jababeka Resort, Morotai di sore hari
Ingin menikmati sunset sambil bermain di pantai? Ini salah satu tempatnya. Resortnya jauh dari keramaian. Sepertinya tempat ini cocok banget buat yang mau bulan madu. Sore harinya tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati sunset. Karena lingkungan resortnya sudah sekalian dengan pantainya. Tinggal jalan kaki aja ke arah laut. Kekurangannya adalah masih terdapat sampah berserakan di pantainya. Di samping itu, lokasinya yang jauh dari pusat kota sehingga membutuhkan kendaraan untuk sekedar mencari makan di luar resort.

Senja di Jababeka Resort, Morotai
Senja di Jababeka Resort, Morotai

3. Taman Kota (17 April 2014)
Taman Kota Daruba, Morotai
Taman Kota Daruba, Morotai di kala senja
Dari ketiga tempat yang aku bahas, tempat inilah yang paling aku favoritkan. Terletak di pusat kota Daruba membuatnya sangat mudah untuk dicari. Tamannya berhadapan langsung dengan laut dengan posisi terbenamnya matahari tepat di depannya. Terdapat beberapa pondok kecil untuk duduk-duduk sambil makan pisang goreng, air guraka, ikan bakar, dll. Tinggal pesan di warung-warung yang terletak di sisi kiri atau kanan. Semakin malam, suasana di taman ini semakin ramai. Tua, muda, anak-anak, rakyat biasa bahkan para pejabat sering nongkrong di tempat ini. Tidak usah khawatir kemalaman, berdasarkan pengalamanku, kota ini cukup aman di malam hari.
Menanti sunset di Taman Kota Daruba, Morotai (kiri-kanan) Jihad, Ichad, Thox
Senja di Taman Kota Daruba, Morotai
Senja di Taman Kota Daruba, Morotai
Itu saja cerita singkatku tentang suasana sunset di beberapa lokasi di Morotai yang pernah aku datangi. Semoga bisa menjadi tambahan referensi. Silahkan baca tulisanku yang lain tentang Morotai dengan di sini.
Narsis Menanti senja di depan Kantor Bupati, Morotai :D
Oh, ya. Menurutku sunset di sini akan sangat indah sekitar jam 18.25 s.d. 18.45 WIT. Jangan ketinggalan moment yaa… :D

 *****

Thursday, 1 January 2015

Belajar Diving day#4, Last day : Menanam Terumbu Karang Hingga Nongkrong di Parkiran Motor Bawah Laut Pantai Malalayang


(Manado, 3 Desember 2014) 
Berkenalan dengan dunia scuba diving dan bergaul dengan orang yang punya passion dalam bidang ini menumbuhkan kesadaranku akan betapa berharganya kelestarian bawah laut terutama di kawasan pantai Malalayang, Manado.
 
Tak terasa, tiba juga di hari ini. Hari terakhir kursus diving :( . Kegiatannya berupa fun diving saja. Fun Diving? Hmm… kedenganrannya menyenangkan. Tapi sayangnya, kondisi laut sedang tidak lagi fun. Laut sedang bergelombang. Ombaknya lumayan bergelora. Apa akibatnya? Kabur coy lautnya. T-T. Tidak hanya itu, di bawah laut nanti, bisa dipastikan akan terasa goyangannya. Hehe… Coach menawarkan kepadaku, apakah sesi fun diving hari ini ditunda besok saja. Atau bisa juga nanti saat aku balik ke Manado lagi. 

“Bisa ditunda. Yang jelas, saya masih punya hutang diving sama anda. Nanti kapan ada kesempatan ke Manado, kabarin saja,” kata coach.

Setelah ditimbang-timbang, aku memutuskan untuk menyelam saja hari ini. Meski mungkin tidak terlalu fun karena lautnya yang kurang mendukung, namun aku pikir kondisi ini akan menjadi sebuah tantangan dan akan memberi kesan serta nuansa tersendiri. Oke, aku mau turun coach. Kebetulan hari ini ada kegiatan penanaman terumbu karang. Bisa sambil liat-liat atau bantu-bantu melestarikan terumbu karang di pantai Malalayang ini. Ternyata kegiatannya direkam juga sama TV asing. Wah, bisa numpang eksis nih. Meski jadi figuran dan tidak dibayar. Hehe…
terumbu karang yang akan ditanam
Dari warung Boboca, kami menuju ke arah Kalasey. Masuk di salah satu dermaga yang sepertinya tempat ini bekas resort. Masih di perairan pantai Malalayang.

“Dulu di dermaga ini tempatnya dugong,” kata Ghe’, seorang diver perempuan senior. Melalui Ghe’ inilah, keberadaanku sebagai diver junior di sini dititipkan coach tadi. Hehe…

Disamping dugong, mandarin fish dan beberapa spesies langka lainnya dahulu masih mudah ditemui di beberapa titik di sepanjang pantai Malalayang. Sejak kegiatan reklamasi pantai bergeliat, spesies-spesies tersebut makin jarang terlihat.
boat yang digunakan menuju spot diving
Dengan menggunakan boat, kami bergerak ke spot pertama. Spot ini adalah sebuah parkiran motor bawah laut di pantai Malalayang. Parkiran motor? Bawah laut? yoi sob. Jadi, motor-motor tersebut adalah sitaan kepolisian Manado yang kemudian oleh para penyelam setempat motor-motor tersebut “diparkirkan” di bawah laut. Oh, ya. Ada hal yang mungkin mengerikan bagi sebagian orang apabila mengetahui cerita dibalik motor-motor tersebut. Apa itu? Sebagian dari motor-motor itu adalah bekas kecelakaan yang pemiliknya bahkan sudah meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut. Iiiiiiiiiiiiiiihhhhhh… Eh, tapi aku kog nggak takut yaa? Mungkin karena nyelamnya rame-rame. Ada kurang lebih 8 orang yang mau turun. Aku nanti ikut om Arie atau Ghe. Pokoknya patokanku kedua orang tadi. Hehe…

Briefing dulu oleh salah satu diver perempuan. Kelihatannya udah senior. Rencananya dia hanya turun satu kali saja, karena harus mengurusi acara ulang tahun anaknya. Karena ada dua orang asing, jadi mba’nya briefing pake bahasa Inggris.
briefing dulu sebelum turun
Tadi sebelum turun, om Fani sempat nyeletuk,”sedia Rp. 5000 yaa.” Akupun menanggapinya dengan serius sambil bertanya dalam hati, buat apa ya?? Ternyata beberapa teman juga ada yang bertanya-tanya.

“Parkiran di manado sekarang sudah Rp.5000 untuk motor,” lanjut om Fani. Whaaattt??? Hahahahahahahahahahaah… Bisa aja si om.

Oke, mari turun. Dari semua peserta, ternyata ada salah satu yang berubah pikiran, mba’ Dewi. Karena sudah lebih dari setahun tidak diving, mungkin masih perlu penyesuaian lagi. Jadinya mba Dewi mengurungkan niatnya.

siap semua? satu.. dua.. tiga.. hehe
Penanaman Terumbu Karang
Seperti diprediksi sebelumnya, air lautnya kabur. Visibilitinya kira-kira 4 meter. Perlahan-lahan turun, sampai juga di spot pertama. Sebuah house reef buatan dimana kami akan menanam terumbu karang di situ. Sama sekali aku tidak tahu bagaimana caranya. Jadi awalnya mengamati apa yang dilakukan teman-teman dulu. Kemudian baru mencoba menanam. Caranya adalah dengan mengaitkan terumbu karang pada tatakan rangka besi yang dibentuk sedemikian rupa. 
silahakan terumbu karangnya...
rangkaian besi tempat terumbu karang ditanam
seperti ini cara nanamnya. tinggal dikait
mudah2an tumbuh subur dan rimbun. yang kutanam itu yang di tengah dengan kait warna hitam
Ternyata menanam karang semudah itu yaa… Mudah-mudahan karang yang kami tanam hari ini bisa tumbuh dengan baik dan rimbun. Meski masih baru, rasanya senang sekali bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini bersama orang-orang yang peduli dengan lingkungan laut Pantai Malalayang yang katanya proses reklamasinya masih bisa berlanjut. hmm. Kegiatan pelestarian ini bisa dikatakan sebagai salah satu upaya “mempertahankan” bagian pantai yang tersisa.
Parkiran Motor Bawah Laut

Kemudian kami beralih ke parkiran motor atau Motorcycle House Reef di sebelahnya. Pemandangan yang aku lihat tidak sesuai ekspektasi. Bukan karena keruhnya air. Tapi kondisi motor yang sudah berkarat dan kusam. Ya iya lah, namanya juga udah direndam di bawah laut. hehe… emangnya ekpektasiku apa? Oke, tadi aku mau cari Kawasaki ninja RR, tapi tidak ketemu. Haha… Aku juga ngebayangin motor-motor warna warni gitu kayak di parkiran Mantos. Ternyata yang ada hanya motor karatan. Tapi justru di situ ada daya tariknya. Yaitu motor-motor tersebut sudah menjadi rumah bagi ikan-ikan dan biota laut lainnya. Aku bahkan jadi lupa nuansa mistisnya karena saking asiknya mengamati hewan bawah laut yang menjadi penghuninya. Padahal suasana laut yang keruh sepertinya menambah ke-angker-annya. Hehe…
selamat datang di parkiran motor bawah laut Pantai Malalayang. biaya parkir Rp. 5000,-. hehe...
parkiran motor ini dipadati ikan-ikan.
dipilih.. dipilih... hehe..
tadi parkirnya di mana yaa... lupa... hehe...
Itu yang lagi syuting...
ada yang berminat menyewa? hehe...
eh, itu tangannya siapa ya?

ini ikan apa ya namanya? ada yang tahu?
ukurannya kecil-kecil. kalau diperhatikan, kayak lele. ada kumisnya.
Selesai di spot ini, kami kemudian beristirahat di warung, sambil menunggu penyelaman kedua. Kali ini di Boboca House Reef, sama seperti pada hari pertama dan ketiga. Kami mempersiapkan peralatan, sambil menunggu persiapan kru tv tadi dan berharap semoga gelombang laut bisa berkurang.
Reruntuhan Bekas Gazebo di Boboca House Reef, Pantai Malalayang
Ternyata gelombang laut masih sama seperti tadi. Kamipun bersiap-siap turun. Kali ini dengan seorang ibu-ibu dengan BCD-nya dipenuhi pin boneka dan bunga-bunga warna warni. Lucu deh.
Sebelum turun, siapkan alat dulu
Dilakukan pengecekkan alat lagi
menanti teduhnya ombak yang tak kunjung reda. hehe....
sebelum turun, narsis dulu boleh kan. hehe..
Agak susah untuk turun di pantai yang berombak. Setelah semua berkumpul, kemudian turun. Salah satu teman kembali mengurungkan niatnya untuk diving dengan kondisi laut seperti ini.
ombaknya lumayan, jadi mesti hati-hati turunnya
yess.... sampai juga di laut. hehe...
menunggu aba-aba untuk turun bareng.
Kami menuju ke laut perlahan-lahan dan turun ke bawah. Sama seperti spot pertama tadi, visibility spot ini kurang bagus. Sempat terpisah dengan kelompok yang lain, kami kemudian berlama-lama di seputaran gazebo. Sempat beberapa kali goyah tadi karena gelombang. Dahulu di gazebo ini bisa dimanfaatkan untuk underwater wedding party lho. Tapi kemudian gelombang kuat menghantamnya. Kini reruntuhan bekas gazebo ini menjadi rumah bagi beberapa jenis ikan dan biota laut.
puing gazebo yang sudah runtuh, menjadi rumah bagi biota laut
salah satu penghuni gazebo
ikan-ikan ini kerap ditemui di gazebo
salah satu penghuni gazebo
salah satu penghuni gazebo
Lama menunggu dan kondisi laut sepertinya tidak berubah, akhirnya Ghe’ memberikan aba-aba untuk naik. Kami naik di atas boat yang kami tumpangi di spot pertama. Sambil menunggu beberapa orang lain, kami ngobrol tentang hal lucu pas lagi di bawah tadi. Setelah semua lengkap, kami bergegas ke dermaga sambil menikmati senja di atas laut Malalayang. Kejadian lucupun berlanjut saat om Fani terperosok di dalam tempat penyimbapan tali jangkar di bagian depan boat. Sayangnya kurang sigap tadi sehingga tidak sempat mengabadikan moment langka itu. Hehe…
keren....
rehat...
sunset dalam perjalanan pulang...
Sampai di warung Boboca, kembali berbincang-bincang dengan coach. Tidak lupa coach me-review kembali materi-materi penting selama beberapa hari ini.

Terima kasih coach Echon dan para asisten coach atas ilmunya. Pengalaman yang aku dapatkan selama 4 (empat) hari pelatihan ini adalah pengalaman yang mahal. Jauh lebih mahal dan berharga dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Senang rasanya berkenalan dengan orang-orang yang punya passion pada dunia diving dan peduli pada kelestarian lingkungan bawah laut pantai Malalayang, Manado.

kiri: Coach Echon, kanan: Om Fani. Om Arie dah pulang duluan. hehe..

…Never dive alone…

…Lets enjoy 70% of our world…

Tuesday, 23 December 2014

Belajar Diving day #3: Get Deeper...


(Manado, 2 Desember 2014)
Cuaca cukup cerah pagi ini. Dan akupun telat beberapa menit. Hehe.. sampe-sampe ditelpon coach tadi. Waduh, jadi nggak enak nih. Hari ini rencananya akan nyelam dua kali diselingi dengan teori. Coach dan para asisten instruktur ini on time. Sebelum jam 07.30 sudah ada di lokasi. Kecuali kalau cuaca tidak mendukung.

Latihan kali ini ditemani oleh om Fani, asisten coach yang berpenampilan nyentrik. Saat sesi praktek sebelum latihan teknik yang baru, aku disuruh mengulangi lagi materi yang sudah dipraktekan di hari-hari sebelumnya. Teknik baru yang aku pelajari hari ini di antaranya adalah bagaimana melepas peralatan selam (masker, pemberat maupun BCD) selagi di dalam laut, kemudian menggunakannya kembali. Ada juga prosedur “Emergency Ascent”, yaitu apabila dalam keadaan darurat dan kita terpaksa harus naik ke permukaan air sambil sedikit-sedikit mengeluarkan udara lewat mulut. Cara ini sebenarnya tidak terlalu aman, karena prosedur yang benar adalah harus menyelam ke permukaan dengan kecepatan 18 meter per menit atau paling tidak  9 meter per menit dan melakukan savety stop di kedalaman 5 meter selama 3 menit untuk menetralisir kadar hydrogen dalam tubuh. Jadi bisa dikatakan kalau melakukan Emergency Ascent dapat berakibat mengalami penyakit dekompresi atau bends. Dari penjelasan tadi bisa dikatakan bahwa penyakit dekompresi ini disebabkan karena nitrogen tidak dapat dilepaskan seluruhnya dari tubuh sehingga tubuh kelebihan nitrogen. Gejala dari penyakit ini antara lain gatal-gatal, sakit pada persendian bahkan kondisi terburuknya adalah bisa menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Salah satu kenalanku ada yang pernah mengalami sakit dekompresi karena naik tiba-tiba saat oksigennya habis. Katanya, dia merasa sangat tidak bersemangat selama kurang lebih sebulan. Jangankan beraktifitas, bahkan untuk makan atau berbicarapun rasanya sangat-sangat tidak berselera.

Oh, ya, praktek  Emergency Ascent hari ini dilakukan di area dangkal, jadi aman. Hehehe… tadi waktu praktek juga aku sempat salah, yaitu lupa menghembuskan nafas pelan-pelan. Untung saja prakteknya di tempat yang tidak dalam. Ternyata nih ya sob, kalau prosedur itu tidak dilakukan, akibatnya bisa berbahaya bagi paru-paru kita lho. Intinya, jangan pernah menahan nafas selagi di kedalaman. Saat naik ke permukaan karena emergency ascent atau melepas regulator, hembuskan nafas sedikit-sedikit (bisa sambil nyanyi katanya, hehe…) tapi jangan sampe habis. Haha… kenapa? Karena apabila saat naik ke permukaan dan seorang penyelam menahan nafas, maka udara yang ada dalam paru-paru akan mengembang. Jadinya volume udara akan bertambah sampai dua kali lipat, sehingga pada batas tertentu bisa-bisa pecah paru-parunya. Wew… hati-hati lho. Ngeri…

Ada juga materi melayang sambil duduk bersila yang disebut “The Buddha Hover”. Keren liatnya. Sambil bersila dan melayang, bisa naik bisa turun tinggal bagaimana kita mengatur buoyancy atau daya apung melalui tarikan dan hembusan nafas. Agak susah memang pada awalnya. Untung om Fani cukup sabar ngajarinnya. Hehe…

The Buddha Hover (sumber: Googling)
Praktek kemudian dilanjutkan dengan teknik menyelam tanpa melihat, tentu saja dengan dituntun oleh buddy. Masker dilepas, pedih donk yaa matanya kena air laut, jadi aku tutup mataku sambil sesekali ngintip dikit. Lama-lama nggak perih sih. Lalu buddy tadi memegang dan menuntun kita sejauh beberapa meter. Kemudian masker ku dipakai lagi, dan tentu saja melakukan masker clearing.
Setelah beberapa menit praktek, baik di saat penyelaman pertama maupun ke dua, tentu saja kami lanjutkan dengan berkeliling. Saat berkeliling, aku baru ngeh kenapa di hari ini disuruh pakai boot yang artinya menggunakan fins jenis open heel yang berukuran agak besar yang tentu saja daya kayuhnya lebih kuat. Ya, ternyata hari ini kami menjelajah ke area laut yang lebih dalam. Wow….

Di kedalaman sekitar 15-22 meter, ternyata terumbu karang di pantai Malalayang ini cukup beragam. Banyak soft coral-nya juga. Ikan-ikan makin padat aja. Warna terumbu karang maupun ikan di kedalaman ini kelihatan kurang berwarna warni. Dan aku baru tahu saat sesi teori di jeda waktu antara penyelaman pertama dan kedua tadi, ternyata semakin dalam, secara kasat mata, ketajaman penglihatan di bawah air akan rendah karena adanya penyerapan cahaya oleh air. Kontras warna seolah berkurang atau dengan kata lain, warna warni di dalam air tidak akan tampak seperti saat kita melihat warna warni tersebut di permukaan. Pantesan waktu di dalam, kelihatan warnanya tidak terlalu beragam. Padahal kalau dilihat hasil foto yang menggunakan flash atau penerangan di bawah air, kelihatan warna warninya. Makanya kalau airnya jernih banget dan langit lagi cerah, mungkin akan lebih kelihatan keanekaragaman warnanya.

Demikian juga dengan suara. Ada perbedaan dengan di daratan. Di bawah air, kecepatan suara bisa beberapa kali lebih cepat dibandingkan di darat. Pantesan beberapa penyelam ada yang membawa besi untuk dibunyikan di dalam air sebagai penanda.
Aku belum berani foto-foto di bawah laut sampe hari ini. Mau fokus belajar dulu. Nantilah kalo udah sedikit mahir. Ahhh, padahal tanganku udah gatel banget liat objek-objek bawah laut di kedalaman ini. Naluri pengen motret kian bergelora dalam diri. Tapi dipendam dulu. Hehe.... 

Hari ini banyak sekali ilmu, baik teori maupun praktek yang didapatkan. Besok rencananya “hanya” fun diving saja. Kata coach, kalau ada yang mau ke Bunaken, nanti aku bisa diikutkan. Tapi kalau tidak, berarti akan menyelam di seputaran pantai Malalayang saja. Oke, tidak sabar untuk besok. Tapi, besok hari terakhir kursus :(

***
Tips dari pemula. Sotoy nih. Hehe...:
  • Baca dan pelajari buku panduan. Ada materi-materi fisika di situ, mungkin nyelimet. Tapi yang penting bisa dipahami maksudnya;
  • Jangan khawatir kalau belum luwes melayangnya. Mesti latihan, latihan dan latihan, terutama teknik melayangnya. Jam terbang juga penting. Seperti kata pepatah, alam bisa karena biasa;
  • Di youtube banyak video teknik menyelam. Bisa jadi referensi. 
  •  
*****