Search This Blog

Pages - Menu

Monday, 20 October 2014

Menikmati Pesona Pantai Tanjung Gorango


(Morotai, 18 April 2014)

gorango = hiuuuu.... :O

Apa? Gorango? Hah???

Mendengar kata itu, langsung terlintas di pikiranku, seekor ikan buas dan ganas dengan rangkaian gigi-giginya yang tajam yang menjadi predator bagi ikan lainnya, bahkan bisa jadi ancaman bagi manusia apabila "bermain-main" di dekatnya. Nggak percaya? Coba saja. :P

 

Di beberapa daerah timur Indonesia, termasuk Maluku Utara, Gorango ini adalah nama sejenis ikan, yang dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut Ikan Hiu. Hehe... Jadi Tanjung Gorango dapat disebut juga Tanjung Hiu. wew... atut nggak? atut donk yaa.. hehe...

 

Entah kenapa dinamakan tanjung Gorango. Dari beberapa teman dari Morotai yang aku tanya, belum ada yang bisa menjawab dengan pasti. Beragam versinya. Salah satu ada yang mengatakan karena bentuk tanjungnya yang kayak ikan hiu. Tapi kalau aku perhatikan, kayaknya enggak deh. Atau mungkin mataku minus-ku ini yang salah liat yaak? hmm.. Entahlah. Atau, apakah banyak ikan gorango di situ seperti yang katanya banyak mondar mandir di perairan seputar Pulau Matita? Entahlah. Yang pasti aku sangat penasaran.

 

Tanjung Gorango adalah sebuah pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik, terletak di Kecamatan Morotai Utara, di antara Desa Gorua dan Korago, Kab. Pulau Morotai, Maluku Utara. Pantainya persis berada di pinggir jalan umum ke arah utara pulau Morotai. Dari Kota Daruba ke Tanjung Gorango membutuhkan waktu kira-kira 3 Jam dengan mobil.

 

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku ke Tanjung Gorango pada pertengahan April 2014 lalu. Satu rangkaian dengan tulisan sebelumnya tentang perjalanan ke pulau Morotai.

Tempat mangkal mobil travel dekat pelabuhan Daruba, Morotai

Dari penginapan di Daruba, kami menyewa mobil dengan harga Rp. 300.000 (sudah termasuk pengemudi lho), di luar bensin. Untuk ukuran Morotai, biaya ini sudah tergolong murah. Agak susah waktu itu mencari bensin, sehingga kami membeli lewat “pertamini” dengan harga Rp. 10.000 per liter. Kita isi kalo tidak salah sekitar 10 liter saja. Nah, yang jadi pengemudi waktu itu adalah bang Samsul, anak dari pemilik penginapan.  


bang Samsul
Sedikit cerita nih tentang bang Samsul. Orangnya agak kurus, gondrong dan kribo. Rocker abisss…. Keren pokoknya. Mengingatkan pada mantan gitaris band rock favoritku, Slash. Cuman tampangnya lebih mirip Kaka Slank. Kalo yang belum kenal, pasti takut kali ya. Tapi kalo udah diajak ngobrol, ternyata orangnya baik, supel, gokil, dan humoris. Dijamin nggak bakal sepi selama perjalanan. Haha…

Sebelum berangkat, beli makan dulu di warung dekat pelabuhan Daruba. Harganya standard. Paling-paling lebih mahal seribu dua ribu dari Tobelo. Nggak beda jauh banget lah. Kami beli nasi bungkus dengan selera makanan rumahan -bukan murahan lho yaa. awas, jangan salah baca. haha...- dengan harga Rp. 15.000.

 

Oke, logistik siap, perlengkapan siap, dan perjalanan pun dimulai sekitar pukul 08.30 pagi. Suhu di Morotai pagi itu masih belum terlalu terik. Setara lah dengan pukul 7.30 di Manado. Semakin siang, panas matahari akan semakin menyengat. Kalau kata teman sih, matahari di Morotai rasanya seperti ada tiga. Ahhh.. lebay banget deh temanku itu. Bukan tiga keleus -bener gak nih nulisnya-, tapi masing-masing orang dapet satu mataharinya. Hehehehehe.....

Perjalanan ke Tanjung Gorango, Morotai
Perjalanan menyusuri jalan utama di pesisir pantai sebelah timur pulau Morotai. Kami melewati beberapa perkampungan. Sepertinya jalan raya trans Morotai sementara dibangun. Beberapa jalan di perkampungan sedang diaspal, ada yang dilebarkan, dan ada pula yang baru dalam tahap persiapan. Terlihat dari material berupa pasir, tiang pancang dan batu di pinggir jalan. Beberapa jembatan ada juga yang sedang dibangun. Ada pula jalanan yang belum diaspal sama sekali alias masih tanah.

Perjalanan ke Tanjung Gorango, Morotai

Sebelah kanan jalan kerap disuguhi pemandangan laut. Yoi, Samudera terluas di dunia, Samudera Pasifik ada di sebelah kanan kami sob. 

 

Sepanjang perjalanan, bang Samsul banyak bercerita mengenai Pulau Morotai, pengalamannya menyusuri hutan, serta hal-hal mistis seputar pulau berjulukan Mutiara di bibir Pasifik ini, yang membuat perjalanan terasa semakin lengkap.

 
Perjalanan ke Tanjung Gorango, Morotai, view Samudera Pasifik

***

Btw, pas lagi nulis paragraf ini, di TV salah satu stasiun tv (sebut saja net. :P) tiba-tiba diputar lagu favoriteku, Sweet Child o’Mine by GNR. Tuh kan, apa kubilang. Pas banget habis nyeritain tentang Slash dari Morotai. Hehehe…. Peace yoo bang…. Hehe….

 

**rehat sejenak menikmati lagu**

G N' R.. You're rock...!!!!

Hmm.. jadi ingat teman-teman GNR gank jaman sekolah dulu. 

 

Okeh, lanjut….

 

Wait… wait…. Bener2 dah nih stasiun tipi.. bikin nggak konsen aja. Lanjut dia dengan Estrange, Patience, Welcome to the jungle dan ngebahas tentang band ini….

*nikmatin lagu dulu sob…*

 

_beberapa menit kemudian..._

Oke. Kembali ke laptop.

Sampai di mana tadi? *scroll up*

***

 

Mobilnya tempur melewati sungai
Kondisi jalan ke Tanjung Gorango
Perjalanan ke Tanjung Gorango bukan tanpa tantangan. Sesekali kami harus mencari jalan alternatif karena beberapa ruas jalan yang sedang dibangun. Belum lagi debu beterbangan dari medan yang masih tanah alias belum diaspal. Tadi udah aku ceritakan sedikit ya tentang kondisi jalannya. Nah, setelah sekitar 2 jam lebih perjalanan, di depan kami ada sungai. Iya, bener sob. Sungai membentang sepanjang jambul khatulistiwa ala Syahroni. Jembatannya belum ada sob. Yang ada cuman sebuah rakit yang cukup untuk motor saja. Hati ini hancur rasanya, jangan sampe rencana ke Tanjung Gorango yang katanya indah itu batal. Oh, tidaaakk. Pikiran ini terasa mulai nggak karuan... *galau sejenak*. Bang Samsul dengan sigapnya langsung keluar melihat keadaan di depan. Fortunately, air lagi sedikit surut. Jadi nggak terlalu dalam –menurut penerawangan bang Samsul– . Artinya apa? Tempur coy. Aduh, gimana nih bang kalo ketahuan ibunya

karena mobilnya tempur sungai?.. hehe… Alhamdulillah, kami bisa menyeberang dengan selamat. Maksudku, mobilnya selamat. Hehe…

Jalanan tanah menanjak-menurun menuju Tanjung Gorango. hehe...

Tanjung Gorango view dari ketinggian

Perjalanan masih berlanjut dengan jalanan tanah keras berdebu dan naik turun bukit. Tidak berapa lama, kami sampai di salah satu dataran yang agak tinggi. Mobil avanza yang kami tumpangi ternyata cukup tangguh juga. Dan tiba-tiba... Waaawwww..... Tanjung Gorango ada di bawah sana sob. Dari atas bukit ini, Nampak Tanjung Gorango dengan lekukan-lekukannya indahnya yang seolah sedang menantang luasnya samudera Pasifik di hadapannya. Subahanallah....

 

Tanjung Gorango, view dari jalan umum

 Tidak sampe berapa lama, kami akhirnya tiba di Tanjung Gorango.  Letaknya pas berada di pinggir jalan. Jadi tidak perlu repot-repot jalan kaki jauh-jauh untuk mencapai pantainya dari jalan umum. Hanya lima langkah dari rumah. Eh, "jalan raya" maksudnya. hehe... 

 

Kesan pertama? Sunyi, sepi, bersih, luas, ombak besar, dan pantai perawan. Ya, suasana yang sangat langka untuk pantai seindah ini apalagi di hari libur weekend begini. Agak bingung juga sih awalnya, kenapa disebut tanjung, padahal sudah jelas-jelas terpampang nyata kalau ini adalah sebuah teluk. Entahlah, nggak usah dipikirin kali yaa.. yang penting indah. Indahhh sekali. Hehe…

Tanjung Gorango, Morotai

Tanjung Gorango, Morotai

Selain hamparan pasir putih, di sisi kiri terdapat bebatuan serta bongkahan-bongkahan karang dan tebing yang menambah lengkap keindahannya. Awalnya aku menyusuri sisi pasir putihnya, baru kemudian menuju ke sisi yang banyak bebatuannya. Tak lupa jeprat jepret prat pret preeettt.. haha….

 

Tanjung Gorango, Morotai

Di tempat ini, kami bertemu dengan sebuah keluarga petani penduduk setempat yang sedang duduk di pondok kecil depan pantai. Sepertinya mereka lagi santai beristirahat setelah dari kebun. Menurut bang Samsul dan kakek itu, apabila air surut, hamparan pasir akan menjadi sangat luas, bahkan bisa sampe beberapa ratus meter. Cuman pada saat kami datang hari ini, air lagi sedikit pasang, dan ombak lagi lumayan tinggi. Maka jadilah kami tergoda ingin menikmati gulungan ombak itu. Kelihatannya ombak yang ada tingginya mungkin mencapai lebih dari 3 meter. Karena pantainya cukup dangkal, makanya kami berani main-main dengan ombaknya yang tinggi itu.

 

Sebelumnya, makan dulu sob. Laper.. Hehe.... 
Mari makaaan....

Tanjung Gorango, Morotai

Tak lupa kamera underwater untuk mengabadikan gulungan ombak dari dekat, merekam momen seru diterjang ombak, dan akhirnya kembali lagi ke pinggiran pantai. Mengejar ombak yang besar seolah menyerahkan diri ini agar diterpa oleh keangkuhannya. Seru sekali, dan kami hanya berempat seolah memiliki pantai yang luas dan indah pada hari ini. Maaf ya, terlalu banyak kata seolah. haha...

 

Kami mengamati gulungan ombak. Menunggu ombak yang besar kemudian lari ke arahnya dan menantang dari arah berlawanan, kemudian hanyut di tengah gulungannya. Rasanya seperti anak-anak pantai gitu. Haha. Di tengah suasana hepi-hepi itu, tiba-tiba, wah, itu dia ada ombak yang besar. Kejaaarrrr brooo….. Jlebbbb… dan… haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. Sambungan tali kamera lepas. Oh my… Tadi aku nggak sengaja memencet kaitnya sehingga lepas sambungannya. Kulihat dia lepas hanyut perlahan tepat di depanku. Kayak adegan slow motion di film-film gitu. Kucoba meraihnya sekuat tenaga dengan menyelam ke arahnya, namun tiba-tiba ombak besar menghatamku lagi menuju ke tepi  pantai. Oh… Perasaan jadi campur aduk, membayangkan momen-momen berharga yang terabadikan itu ditelan oleh ganasnya ombak pantai Tanjung Gorango. T-T

 

Ya sudahlah, tidak ada gunanya menyesal. Belum rejeki, kataku dalam hati. Untung Tanjung Gorango hanya mengambil kameranya, dan bukan orangnya -amit-amiiiiit... -Ambil hikmahnya saja. Lain kali harus menggunakan floating strap. Padahal foto-foto dan rekaman diterjang ombak tadi adalah momen yang langka. Sangat sangat langka. Apalagi momen lucu di mana pas si Jihad dihantam ombak besar dari belakang tadi. Hahaha.... Dan masih banyak rekaman lucu lainnya. Hadeh.. Biarlah dia membekas di dalam hati saja. Hmmm… *putar lagu sendu* hehe…

Kiri-kanan: Thox (aku), Ichad, bang Samsul, Jihad

Pokoknya kalau sampe ada yang menemukan kamera Nikon aw110 warna hitam dan memorinya berisi foto dan rekaman kami, itu adalah punyaku. Nggak apa-apa ambil aja kameranya, yang penting memorinya dikasih ke aku, setelah dicopy, aku kasih deh memorinya juga. Hehehehe….. *masih ngarep :P*

 

Well, sudah dulu galaunya, saatnya melanjutkan senang-senang bermain dengan ombak. Lupakan sejenak kamera itu. Ayo kawan-kawan kita main lagi. Kerjar ombak ituuuu...  haha…. Tentu saja foto-foto bermain ombaknya tidak bisa diposting di sini. :(





Tanjung Gorango, Morotai

Hari sudah semakin sore, saatnya kami pulang kembali ke Daruba. Tentu saja melalui jalan yang tadi. Syukurlah air di sungai belum naik, jadi kami masih bisa “meloloskan” diri. Seandainya airnya naik, berarti kami tidak bisa pulang sore ini. Hehe..

Perjalanan pulang ke Daruba, Morotai

Suasana perjalanan pulang ternyata enak juga. Pemandangannya lain dari arah berlawanan. Apalagi pas melalui jalanan yang berada di ketinggian. Samudera Pasifik lagi-lagi kelihatan sangat indah dari atas sini. 

Perjalanan pulang ke Daruba, Morotai. View Samudera Pasifik

Sampai di Daruba sudah sore. Siap-siap menikmati sunset. Aaahhh… sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Tanjung Gorango, sepertinya aku akan sangat merindukan tempat ini. 

***


Tips perjalanan ke Tanjung Gorango

  • Sebaiknya menggunakan mobil sendiri/sewa.

  • Perjalanan bisa dilanjutkan sekalian ke Tanjung Sopi, masih ke arah utara Pulau Morotai. Katanya tempat itu sering dikunjungi bule untuk berselancar. Taman lautnya juga bagus beud -bener gak ya nulisnya :P -.

  • Suasana menjelang sore di sini rasanya gimanaa gitu. Entahlah, tapi aku suka saat matahari sore menerpa pantainya sekitar jam 15.00. Semacam ada rasa damai yang tercipta dalam hati, pikiran dan perasaan -pengen muntah yaa... Haha.. -

   *****

Monday, 6 October 2014

Sekelumit tentang Pulau Morotai, Mutiara di Bibir Pasifik

(Morotai, 17 April 2014)

Kali ini aku akan bercerita sedikit tentang suasana pulau Morotai. Pulau yang mendunia karena sejarah Perang Dunia II. Pulau dimana kakekku – berdasarkan cerita nenekku – pernah bertugas sebagai tentara Belanda, sebelum akhirnya kemudian menjadi anggota tentara ABRI di jaman penjajahan dulu. Pulau yang diwarnai cerita mistis bangsa “Moro” yang melegenda di kalangan rakyatnya.

Kalau kita melihat peta, pulau ini berada di sebelah utara pulau Halmahera provinsi Maluku Utara. Letaknya di bibir Pasifik, membuatnya cukup strategis sehingga dipilih oleh Sekutu sebagai salah satu kawasan pertahanannya pada Perang Dunia II. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan perang yang masih dapat kita temui di tempat ini. Salah satunya landasan pesawat udara Pitu yang sekarang ditempati oleh Lanud Leo Wattimena. Salah satu yang terluas di Asia Tenggara, karena memiliki 7 buah landasan. Lebih lanjut tentang sejarah, kondisi geografis maupun hal-hal lain seputar pulau ini, sobat bisa langsung ke website resmi pemda setempat atau googling.

 

Sampai saat ini, sudah tiga kali aku ke pulau Morotai. Pertama kali di tahun 2012 lalu saat acara Sail Morotai yang pernah aku ceritakan di postingan yang lalu.

 

Menuju ke Pulau Morotai


Pelabuhan Tobelo
Pelabuhan Tobelo

Pada bulan April 2014 lalu, kesampaian juga bisa ke Pulau Morotai lagi. Saat itu aku bareng Jihad, dan Ichad, teman baru dari Papua yang kerja di Ternate dan kebetulan lagi tugas sebulan di Tobelo. Perjalanan dari Tobelo ke Morotai waktu itu pada hari Jumat siang, sekitar pukul 13.30, menggunakan kapal kayu dengan harga tiket 60ribu per orang. Waktu tempuh sekitar 3 jam. Kalau menggunakan speedboat, bisa lebih cepat, yaitu 1,5 jam, dengan harga 100 ribu per orang. Kapal kayu biasanya beroperasi setiap hari, kecuali hari minggu. Sedangkan speedboat tersedia setiap hari. Adapun kapal Fery, dengan biaya Rp. 15.000 setiap hari Kamis sampai Sabtu, dengan jarak tempuh yang hampir sama dengan kapal kayu.

Perjalanan Tobelo - Morotai

Children of Morotai :D

Ternyata menggunakan kapal kayu itu, meski lama, namun menyenangkan. Kita bisa kesana kemari keliling kapal, melihat pemandangan yang indah dan mengabadikannya lewat foto, ketemu orang-orang, bahkan bercengkrama dengan anak-anak. Contohnya seperti kedua adik ini, yang berasal dari tanjung Sopi di ujung utara pulau Morotai. Nama mereka aku lupa – maaf, penyakit lupa nama kambuh –, Padahal udah aku sampe berkali-kali menanyakan namanya biar nggak lupa. Mereka berdua lucu sekali, dan suka bercerita. Apalagi si adik yang bertopi merah muda. Sempat-sempatnya dia mendongeng kepadaku tentang cerita seram yang katanya dia alami di daerahnya. Dia ceritanya lancar sekali, seolah tengah bercerita ke teman sebayanya. Ahhh, si adik tahu aja yaa kalo kita hampir seumuran… *plakkkk

 

Gugusan pulau di perairan Halmahera Utara

Saat mulai keluar dari perairan dekat Tobelo, seperti biasa, gugusan pulau di sekitarnya melepas pelayaran kami. *ceileh* dan baru tahu aku kalau di belakang pulau Kakara ada pulau kecil berpasir putih. Wadow, bikin galau aja nih *mupeng*. Pulau demi pulau kami lewati, dan saatnya menikmati laut lepas. Ya, lautan Pasifik kawan. Kondisi laut masih standard lha yaa, belom ada atraksi ombak yang gimanaaa gitu.  

 

Oh, iya. Aku penasaran dengan yang namanya pulau Matita. Pulau yang akan dilewati sebelum memasuki pulau Morotai. Pulau yang di sekelilingnya –menurut beberapa orang yang aku tanya – terkenal dengan batu karang curam di bawah laut, yang menghasilkan arus laut dengan ombak yang lumayan. Dan memang benar, September 2012 lalu yaitu pertama kali aku ke pulau Morotai, dengan speedboat 3 mesin di malam hari, sempat ada guncangan-guncangan. Kata salah seorang teman, “kita di dekat pulau Matita,”. Karena saat itu tengah malam, pulaunya tidak kelihatan. Dan saat ini, dengan melihat arus ombak di laut yang tidak karuan namun tergolong masih aman, bisa ditebak kalau pulau di seberang sana itu adalah pulau Matita. Hal ini dibenarkan oleh salah seorang bapak yang aku tanya. Untungnya kami pake kapal kayu, jadi ombaknya tidak terlalu bikin galau hati, pikiran dan perasaan. Haha… Pulau Matita ternyata indah sekali. Kelihatan sunyi, bersih dan tenang seolah kontras dengan hiruk pikuk ombak di sekitarnya. Jadi pengen ke pulau itu. Tapi saat mata melirik kembali ke ombak di laut, keinginan itupun seolah hanya sebatas impian. Hehe…
Pulau Matita, perairan Pasifik, Morotai

"Di laut sekitar pulau Matita itu terminal-nya ikan hiu," pernah salah seorang teman dari Morotai berkata begitu kepadaku. Oh, my.... Ngeri deh kalo kenapa-kenapa di sekitar pulau ini. hmm...

Mata kemudian tertuju di bagian lain. Terlihat ada daratan putih di tengah laut. itu adalah pulau pasir timbul. Atau dalam bahasa Indonesia disebut “gosongan”. Lebih jauh ke sana mata memandang, kelihatan sepertinya ada perairan dangkal yang luas. Apakah itu pulau Dodola? Entahlah. Terkahir ke sana tahun 2012 lalu - eh, kog kata-kata ini terulang terus. hehe... - Ataukah fatamorgana? Atau memang efek kabur dari mataku yang sudah minus dan silinder? Bisa jadi. Hehe… 

Perjalanan ke Morotai

Tadi di perjalanan, aku turun ke lantai dasar kapal. Di situ ternyata banyak penumpang. Sedangkan di atas sedikit sekali. Apa itu tempat favourite ya? Kan lebih panas? Hmm.. Setelah itu naik lagi ke atas. Ternyata tadi waktu turun ke bawah, kata si Jihad dan Ichad  ada lumba-lumba loncat-loncat di pinggir kapal kayak di tipi. Aaaakk.. aku gk liaaattt.. T-T

 

Tiba di Pulau Morotai

Pelabuhan Daruba, Morotai di sore hari

Pulau demi pulau kita lewati, jauh dekat memanjakan mata. Tibalah di pelabuhan Daruba, Morotai sekitar pukul 16.00. Sore ini agak mendung, dan sepertinya penghuni perut sudah siap membawakan lagu keroncong.

Daruba, Morotai
Soto ayam penghilang lapar. hehe...

Saatnya menyusuri kota Daruba. Kita makan dulu sob, sebelum mencari penginapan. Di sini banyak juga warga pendatang. Contohnya tempat kami makan soto ayam ini, yang jual orang Jawa. 

 

Tempat kami menginap

Untuk penginapan, di sini beragam. Mulai yang paling murah 50rb, sampai yang harganya 1jt-an. Ada harga, ada kualitas. If you know what I mean sob. Pilihan kami jatuh ke salah satu penginapan dengan harga 200 ribu per malam. Si Jihad ternyata pernah menginap di sini sebelumnya. Nama penginapanya”Losmen Marina Putri”. Fasilitas? standar lengkap.  AC, kamar mandi dalam, spring bed, handuk, TV, sarapan pagi. Karena kami bertiga, dapat bonus ektra bed. Lho? Bonus? Ya iya. Ibu yang punya penginapan menyediakan kasur tambahan  tanpa tambahan biaya lho…. Bahkan sarapan pagi yang biasanya buat dua orang, untuk kami disediakan buat tiga orang, tanpa tambahan biaya juga. Eitsss, masih ada lagi. Apa itu? Sewa mobil sob. Karena salah satu agenda kami akan ke Tanjung Gorango, berarti mesti sewa mobil. Berdasarkan survey – cah lontong mode on – rata-rata biaya sewa mobil ke Tanjung Gorango sekitar 400-600rb. Namun di penginapan ini, kami menyewa dengan harga 300rb per hari, sudah termasuk supir, namun di luar biaya bensin. Cukup murah. Si Ichad memang ahli dalam nego menego. Haha… Semoga penginapan ini makin laris. Sebagai tanda terima kasih, aku promosiin di sini. Haha….

Taman kota Daruba, Morotai di sore hari.

Kembali ke kota Daruba. Suasana kota sudah cukup tertata. Perhelatan Sail Indonesia di Morotai  2012 lalu sepertinya sedikit banyak memberikan dampak positif terhadap pembangunan. Jalanan lebar, pagar yang teratur dan seragam. Ada area pertokoan, pasar, penjual makanan, dan kawasan ramai yang menandakan ada kegiatan perekonomian yang menggeliat di sini. Ada taman kota - sepertinya menjadi tempat nongkrong favouritku di kota kecil ini -, atm dan beberapa bank umum. Harga makanan masih wajar lah. Hampir sama seperti di Tobelo.

Kami bertiga: Ichad, Jihad, Thox (aku)

Kesan yang aku tangkap dari suasana kota Daruba Pulau Morotai ini adalah, nyaman. Penduduknya ramah, bersahabat dan jangan khawatir untuk bertanya kepada orang-orang di sini kalau anda butuh informasi. And, I think, I love Morotai. hehe...

 

Selama tiga hari dua malam di pulau bersejarah nan eksotis ini, kami berencana mengunjungi beberapa objek wisata. Di antaranya pantai Tanjung Gorango dan tentu saja, Pulau Dodola yang indah itu :)

Menanti sunset di taman kota Daruba, Morotai
***

Tips tambahan perjalanan ke Pulau Morotai, selain beberapa yang sudah aku sebutkan di atas:

  • Sampai dengan tulisan ini dibuat, terdapat penerbangan dengan Susi Air jurusan Morotai - Ternate setiap Senin, Selasa dan Rabu. Namun belum tersedia reservasi online.  Reservasi dilakukan langsung ke kantor perwakilannya di kota-kota tersebut.

  • Terkait dengan tips poin satu di atas, sebaiknya itu diambil untuk rute baliknya saja. Sedangkan untuk rute kedatangan, alangkah baiknya kalau sobat mengambil rute via Tobelo (Halmahera Utara) dengan meluangkan waktu minimal 2 (dua) hari di Tobelo agar sekalian bisa "mengupas" sedikit keindahan Halmahera Utara.

  • Ada banyak sekali objek wisata di Pulau Morotai ini selain yang aku sebutkan di atas. Di antaranya Pulau Pasir Timbul, Pulau Zum-zum (Mac. Arthur, Panglima perang tentara Sekutu jaman PD. II), Museum PD. II, aktivitas diving (selain alam bawah laut yang indah, banyak peninggalan PD. II berupa kapal maupun pesawat yang tenggelam di dasar laut, bak museum bawah laut aja :D), Tanjung Sopi (selancar, diving), air terjun (lupa namanya, maaf), Air Kaca (tempat mandinya Mac. Arthur), Tanjung Gila, dan lain lain lain lain lain. hehehe....

     

    *****